kelas sabtu: volume 2.2

Kelas Sabtu seri ketiga mengundang perwakilan dari alumni Ekskursi Arsitektur UI, yaitu Kak Mirzadelya Devanastya dari Ekskursi Alor (2011), Kak Novia Putri Anisti dari Ekskursi Mentawai (2012), Kak Prisca Winata dari Ekskursi Sabu Raijua (2016), Kak Frista Puspita Marchamedya dari Ekskursi Bima (2017), dan Kak Fahmi Arifin dari Ekskursi Seram (2018), untuk bercerita mengenai aspek-aspek yang terlibat dalam pembentukan arsitektur atau kampung, pemaknaan masyarakat terhadap ruang bertinggal, serta alur proses perjalanan data dan materi pada Ekskursi di tiap tahunnya.

Apa saja aspek yang banyak terlibat dalam pembentukan arsitektur / kampungnya?

“Terkait budaya yang memiliki tarian-tarian, salah satunya di Alor, seperti tarian Lego-Lego (sakral dan utama) berpengaruh terhadap pola bertinggal. Pola kampung disusun linear karena ritual tahunan tarian Lego-Lego menghasilkan batasan berupa ruang yang linear, memiliki titik pusat, dan rumah yang menghadap ke Mesbah (lingkaran batu kali bertumpuk yang memiliki ketinggian 1 meter).” (Ekskursi Alor (2011) - “Living Celebration”) “Tato Mentawai pada zaman dahulu disebut sebagai identitas yang membedakan antara klan, memiliki arti yang berbeda-beda. Terjadi perubahan identitas tanpa adanya keterhubungan dengan Tato Mentawai dan beralih pada kegiatan sehari-hari yang membentuk pola kampung. Pola kampung berdasarkan pertumbuhan keluarga tanpa pengaruh dari kepercayaan tato yang sudah dipercaya sejak zaman dahulu.” (Ekskursi Mentawai (2012) - “Guratan Identitas”) “Pulau kedua ter-selatan Indonesia, topografi panas dan kering. Tidak banyak material yang dapat digunakan untuk membangun rumah, yang tersedia adalah lontar sehingga sangat berpengaruh terhadap pola kehidupan warga sekitar. Masyarakat Sabu awalnya membuat sebuah rumah dari kapal yang ditelungkupkan. Di dalam rumah terdapat elemen-elemen yang berkaitan dengan kapal, seperti anjungan dll. Dengan begitu, arsitektur dan pola kampung di Sabu Raijua dipengaruhi oleh kondisi geografis, ritual dan sosial, serta kepercayaan.” (Ekskursi Sabu Raijua (2016) - “Sabu Raijua, Lontar, dan Arsitektur”) “Rumah di puncak paling tinggi merupakan rumah kepala suku adat, lainnya merupakan tanah yang berangsur turun, di setiap ketinggian diratakan untuk membangun sebuah rumah. Hubungan antara pola kampung erat hubungannya dengan kontur dan kekerabatan di Desa Donggo.” (Ekskursi Bima (2017) - “Antara Padi dan Arsitektur”) “Huaulu: radial, dominan hutan, posisi di tengah-tengah hutan, terdapat rumah kumpul ‘Baileo’, bergantung pada hutan sebagai tempat tinggal, mata pencaharian, dll. Hutan sebagai tempat pelindung. ‘Baileo’ hanya dihuni oleh satu marga yang dipercaya oleh warga sekitar. Hahualan: lebih modern dan letaknya menuju ke arah pantai. Di daerah puncak merupakan daerah yang sakral, semakin kebawah daerah semakin modern. Rohua: dekat ke pesisir.” (Ekskursi Seram (2018) - “Jejak Hutan dalam Arsitektur”) Kemudian bagaimana pemaknaan masyarakat terhadap ruang bertinggal mereka? Serta bagaimana proses perjalanan data dan materi, dari riset hingga pasca keberangkatan? Untuk jawaban lebih lengkapnya dapat menyaksikan tayangan ulang di bawah ini atau melalui kanal youtube kami di ‘Ekskursi Arsitektur UI’.