kelas sabtu: volume 2.1



Kelas Sabtu seri kedua mengundang perwakilan dari alumni Ekskursi Arsitektur UI, yaitu Kak Robin Hartanto dari Ekskursi Banjar (2010), Kak Ade Amalia dari Ekskursi Wakatobi (2013), Kak Maulitta Cinintya dari Ekskursi Jambi (2014), Kak Aditya Tri Suwito dari Ekskursi Korowai (2015), dan Kak Maghfirasari Adhani dari Ekskursi Orang Laut (2019), untuk bercerita mengenai dampak gaya hidup masyarakat lokal terhadap pola kampung dan arsitektur, hubungan pola dengan nilai alam dan kepercayaan, serta proses perjalanan data dan materi pada Ekskursi di tiap tahunnya.



Bagaimana Kondisi Geografis Berdampak pada Pola Bermukim dan Arsitektur?

“Di Ekskursi Banjar men-highlight geografis sungai. Sungai bukan sebagai hubungan yang kausal, tetapi lebih ke probabilitas tentang apa yang mungkin terjadi ketika ada sungai yang bisa menjadi faktor dari gaya hidup, pola bermukim, derajat interaksi, serta keragaman. Dari pola rumahnya ada yang rumah panggung, terapung, ada juga yang eksklusif isolated.” (Ekskursi Banjar (2010) - “Antara Dua Dunia”)

“Suku Bajau hidupnya di atas kapal dan mengarungi laut. Namun sekarang sudah banyak juga yg menepi/berdiam di suatu daratan. Syarat salah satu tempat yg dipilih suku Bajau untuk tempat tinggal adalah adanya kekayaan laut. Di Wakatobi sendiri terdapat coral triangle.” (Ekskursi Wakatobi (2013) - “Tanah Airku, Air Tanahku”)

“Suku Rimba ini masih semi nomaden dan terdapat alasan kenapa mereka berpindah yaitu karena kepercayaan (melangun dan kegiatan ritual) dan kebutuhan (berburu dan berladang). Untuk penentuan lokasinya yaitu dekat dengan sungai, izin (kepada) dewa, tidak boleh terlihat pohon gesing dan pohon keranji, serta kondisi lain yang dibutuhkan sesuai ritual yang akan dilakukan.” (Ekskursi Jambi (2014) - “Rimba: Menapak Jenggala”)

“Dalam literatur korowai disebutkan Klufo Fyumanop, orang yang biasa berjalan kaki. Pola hidupnya menyebar di hutan dan berkelompok sesuai marga/famili masing-masing. Mengokupasi daerah kekuasaan masing-masing dusun yang dibatasi oleh batas geografis, seperti sungai. Dari kondisi geografis, mereka hidup di rawa dan di atas pohon untuk menghindari musuh di kala perang, nyamuk malaria, dan mengatasi rawa itu sendiri.” (Ekskursi Korowai (2015) - “Menggapai Tonggak Cakrawala”)

“Yang mempengaruhi pola kehidupannya dan mencari sumber daya alam, yaitu waktu terbit dan tenggelam matahari, pasang-surut air laut, serta arah angin. Rumah-rumah berjajar menghadap ke arah laut agar lebih mudah dalam mengakomodasi kapal masing-masing di depan rumah. Untuk suku duano sendiri itu dekat dengan daerah antara sungai dan laut yang airnya coklat dan berlumpur sehingga mempengaruhi bentuk kapal dan pencarian utama mereka. Dengan begitu pencarian utama mereka adalah menjadi nelayan menongkah kerang.” (Ekskursi Orang Laut (2019) - “Pengarung Lautan Beratap Kajang”)

Kemudian bagaimana hubungan antara pola berkehidupan dengan nilai alam dan kepercayaan? Serta bagaimana proses perjalanan data dan materi mulai dari tahap riset hingga pasca keberangkatan?

Untuk jawaban lebih lengkapnya dapat menyaksikan tayangan ulang di bawah ini atau melalui kanal youtube kami di ‘Ekskursi Arsitektur UI’.