kelas sabtu: volume 1



Kelas Sabtu seri pertama mengundang Farhan Auliya sebagai perwakilan dari Arsitektur Hijau Universitas Katolik Parahyangan, Stratio Sabrang sebagai perwakilan dari Ekskursi Arsitektur Trisakti, dan Mohamad Irvansyah dari Ekskursi Arsitektur UI untuk berdiskusi bersama membahas tentang mahasiswa dan pendokumentasian arsitektur vernakular yang ditanggapi oleh Yori Antar sebagai seorang arsitek yang juga telah mendirikan Rumah Asuh yang bertujuan untuk melestarikan rumah-rumah tradisional Indonesia.



Apa Kata Penanggap?

“Tugas mahasiswa bukan mengintervensi, tapi merekam proses arsitektural. Mahasiswa dapat memperoleh ilmu melalui pengamatan real.”

“Mahasiswa menggali ilmu dan menghasilkan dengan hati, dengan masyarakat adat akan terbuka dengan pembelajaran tsb. Masyarakat lokal yang kurang percaya diri, dengan adanya pengambilan data mereka bisa mendapatkan rasa percaya diri tersebut.”

“Kalau ingin menjadi arsitek yang melayani masyarakat, harus tahu bagaimana budaya, masyarakat, material lokal. Maka dengan begitu masyarakat juga dapat merespon dengan antusias.”

Arsitektur Vernakular di Mata Mahasiswa

Arsitektur UI

“Arsitektur yang dibangun oleh masyarakat, dibentuk untuk memenuhi kebutuhan spesifik, dan mengakomodasi nilai lokal yang ada sehingga dapat dilihat bagaimana keterkaitan antara arsitektur dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.”

Arsitektur Katolik Parahyangan

“Melihat proses yang berkembang pada arsitektur suatu daerah, dibuat oleh masyarakat lokal, dan disepakati secara komunal. Namun pendefinisiannya tidak dibatasi karena akhirnya tiap ekspeditor memiliki interpretasi sendiri (terhadap arsitekturnya).”

Arsitektur Trisakti

“Arsitektur asli, terbentuk dari masyarakat lokal. Kemudian melalui (perjalanan) ekskursi, memperkenalkannya ke mahasiswa.”

Untuk hasil diskusi lebih lengkapnya dapat menyaksikan tayangan ulang di bawah ini atau melalui kanal youtube kami di ‘Ekskursi Arsitektur UI’.